Cinta Tanpa Koma...
Pagi cerah, dengan tangan yang masih basah. Sambil memandang wajah di cermin, hadiah dari suami tercinta.Tanpa terasa sebentar lagi usiaku mau menuju kepala empat, usia yang ditakuti oleh para kaum hawa, kulit mulai kering, pipi mulai tembem, dan kerutan halus di pelipis mata.
Siap nggak sich.....Oh tidaaaaakkk!!!!!!
“Kamu masih cantik kok!” tiba-tiba suami muncul di belakang.
“Masa sih?” mataku menatapnya dengan penuh tandanya.
“Bang, ingat nggak? Sebentar lagi ulang tahunku lho!”
“Masa sih, dek?” Suami terbengong.
Ih,kamu payah bener! bisikku dalam hati, sambil mengambil krim siang yang mau dioleskan ke wajah ,yang masih basah oleh sisa air.
Saya tertegun sejenak. Dia selalu lupaaaa...
Tapi dia selalu menerima saya apa adanya. Dalam masa apapun dia ada di samping saya. Demikian juga kadang sifat sensitif saya muncul tiba-tiba. Maunya pengertian suami harus lebih. Kadang membuat saya penasaran dan bertanya dalam hati, masihkah dia mencintai, yaitu ketika tangan ini sudah mulai keriput, rambut ini keperakan.Sebab, banyak teman-teman di kantor bilang, laki-laki itu cenderung senang melihat yang indah-indah dan menarik.
Apa iya?
Okelah...
Tapi yang aku yakini, ada yang jauh lebih cantik dari sekedar fisik. Kutepis cemas yang melanda.
Namun sudah sekian lama saling mengenal, apakah itu tidak cukup untuk saling menerima pasangan apa adanya? Bahwa sejatinya setiap pasangan harus saling memahami dan membutuhkan.
Seingat saya, suami memang tidak pernah melakukan hal-hal yang romantis seperti yang pernah dilakukan suami sahabat baik saya.
Dia tidak pernah mengajak saya makan malam berduaan (candle dinner), nonton bioskop berduaan, bahkan jarang memberi hadiah istimewa.
Dari semua kekurangannya, dia tidak pernah sekalipun mengeluh dan menuntut, agar saya berada di rumah setiap saat dan setiap waktu. Mungkin memasak makanan favoritnya setiap hari. Bahkan tidak pernah mengeluh pada saat saya membutuhkan bantuannya. Misalnya menemani kekamar kecil di malam hari.
Di lain waktu dia tetap dengan senang hati membantu saya kalau mau mandi, mengganti popok bayi di saat saya habis melahirkan putra-putri kami, dengan cara operasi ceasar. Dan yang paling penting, dia ridha ketika saya sibuk bekerja di luar rumah. Kadang kala saya bekerja di kantor bertemu dengan teman- teman lawan jenis. Apa gerangan yang ada dalam benaknya? Cemburu nggak ya? Sekian lama mengenalnya, kadang dalam hati saya bertanya, apakah dia tidak cemburu, atau dia malu mengungkapkan? Cuma mengungkapkan kata C.E.M.B.U.R.U aja kenapa susah amat. Arghhh...
Saya pernah berpikir bagaimana caranya dia bisa cemburu, kata orang tua dulu cemburu itu tandanya cinta, berarti dia tidak cinta dong?
Tetapi saya pernah diingatkan kakak,”jangan pernah memancing rasa cemburu suami, bisa berbahaya, amit-amit jabang bayi!”
“Siap, My sister!”
Seketika saya mendengar sayup dari kejauhan suami memanggil. Saya bergegas menghampirinya di mobil. Sudah waktunya berangkat ke Kantor. Dalam perjalanan, aya memandangnya dari samping. Di kepalanya sudah mulai muncul si putih alias uban satu persatu.
“Eh,....kenapa kamu ngeliatin saya seperti itu?Mmmm....kok malah nyengir gitu?”
”Duhhh... kalo aku kasih tau marah nggak ya?”
“Kenapa? Ada yang aneh?” ungkap suami.
Ya, ubanmu sudah banyakkkkkkkk......hihihihihiihii.
“Wajarkan balasnya!”
“Menurutmu aku harus bersusah hati kalau rambut putih ini mulai muncul? Apa kamu lupa kalau aku sudah menginjak kepala empat?”
Ooohh....begitu?
Wow! potongku.
Lho... kok? Aku tertawa geli mendengarnya.Tak pernak kubayangkan suatu hari nanti memiliki suami rambutnya sudah memutih. Ternyata , Allah menganugerahi kepada umatnya apapun tepat pada waktunya dan tidak ada yang bisa menundanya.
Setengah jam kemudian kami sampai di kantor. Saya pandang lagi dia. Dalam hati, saya sangat bersyukur terima kasih ya Allah Engkau memberi saya suami pengertian, tidak pernah komplain, apalagi menggerutu. Ketika saya terpaksa ke luar kota ada tugas dari kantor, dimana anak-anak terpaksa saya tinggalkan bersamanya.
For my dear husband ,”Thanks.... I love U. Kamu selalu ada di samping saya di saat susah dan senang, mendampingi saya untuk menghadapi hari esok.
Jangan bosan ya, menghadapi istrimu yang kadang kala sembrono dan ajaib ini..wkwkkwkwkwkwk
Suamiku sayang, terima kasih ya atas semua yang telah kau lakukan untukku dan anak-anak.
Say...., kamu sudah berusaha keras menjadi papa yang baik buat anak-anak dengan kekurangan yang kamu punya. Mulai hari ini saya berjanji akan menjadi istri yang lebih baik lagi untukmu. Istri yang kau ridhai dan Allah pun ridha kepadaku...amin. Kumerasa cinta ini takkan pernah berhenti hingga berbilang hari. Cinta itu tanpa koma, say...*
Pekanbaru 25 Maret 2011 by Yuko