Salah seorang teman saya ulang tahun, makluk dalam perut sudah tidak bisa kompromi lagi alias lapar. Tetapi tetap saja saya berusaha mengelak pada saat menu disodorkan.Tak peduli seberapa laparnya perut ini,menolak itu untuk sekedar menjaga image alias J.A.I.M.10 menit kemudian dan si pelayan menyodorkan menu yang kesekian kalinya, baru mata ini membaca deretan menu yang di sediakan di resto tersebut.
Pesanan utama sop buntut plus nasi...mmmmm pasti enak, naluri rasa sudah mulai mengoda. Sementara teman-teman yang lain udah lengkap pesananya dari makan pembuka dan penutup saya baru mesan satu makanan berat. Semua pesana pada acara ulang tahun ini pasti akan dibayar apapun yang kita pesan itu adalah resiko orang yang ultah. M'bak saya minta jus terong belanda, karedok, buah campur dan penutupnya cake yang ada tiramisunya ya,terimakasih.
Melihat pesanan sudah ada dihadapan salah satu teman saya nyelutuk' kok pesananya sedikit amat? kenapa udah makan tadi ya?'
Saya jadi berpikir apakah semua yang ada dihadapan saya ini dibilang sedikit?
Makanan merupakan suatu yang bisa membuat kita berimajinasi yang sangat luas. Apalagi kalau makanan tersebut makanan kesukaan. Dan memakan dengan keringat yang mengalir deras disela-sela rambut yang menyusuri kening yang tadinya berkerut yang dipenuhi masalah. Sekarang menjadi hilang kerutanya tanpa operasi plastik, itu semua karena makanan yang dibumbui rasa.
Kini saya ingin menikmati hidangan didepan mata,satu persatu. Rasa itu mulai menjelajahi kerongkonga. Sepotong tiramisu yang dingin.suasana resto yang mendukung.
Dengan perut yang super kenyang saya memperhatikan si pelayan membersihkan sisa-sisa makanan di masukan jadi satu ke dalam tempat sampah yang besar tanpa beban dan tanpa memilah mana yang terlebih dahulu yang akan di masukan ke tempat sampah.
Tadi saya makan menunya bertahap dari makanan pembuka sampai makanan penutup.
Apa jadinya semua menu pesanan tadi dimasukan didalam satu wadah di aduk menjadi satu kemudian dimakan dengan rasa yang ada. Itulah yg ada dalam perut ini.
Apapun yang dimakan, melalui rongga mulu, perut tidak ada artinya kalau tidak ada "Rasa". Rasa itulah yang banyak membuat manusia sering lupa akan segala-galanya. Dalam rasa banyak makna yang bisa kita ambil, yang tidak dipahami banyak orang
Rasa dekat dengan siapa yang menciptakan kita,
Rasa sayang sesama
Rasa puas,
Rasa berterimakasih dan rasa semuaaaaa yang terasa.
Mengapa kita selalu membedakan dan memelihat seseorang dengan tidak memiliki Rasa.
Pekanbaru 14 Maret 2011 by YuKo
Pesanan utama sop buntut plus nasi...mmmmm pasti enak, naluri rasa sudah mulai mengoda. Sementara teman-teman yang lain udah lengkap pesananya dari makan pembuka dan penutup saya baru mesan satu makanan berat. Semua pesana pada acara ulang tahun ini pasti akan dibayar apapun yang kita pesan itu adalah resiko orang yang ultah. M'bak saya minta jus terong belanda, karedok, buah campur dan penutupnya cake yang ada tiramisunya ya,terimakasih.
Melihat pesanan sudah ada dihadapan salah satu teman saya nyelutuk' kok pesananya sedikit amat? kenapa udah makan tadi ya?'
Saya jadi berpikir apakah semua yang ada dihadapan saya ini dibilang sedikit?
Makanan merupakan suatu yang bisa membuat kita berimajinasi yang sangat luas. Apalagi kalau makanan tersebut makanan kesukaan. Dan memakan dengan keringat yang mengalir deras disela-sela rambut yang menyusuri kening yang tadinya berkerut yang dipenuhi masalah. Sekarang menjadi hilang kerutanya tanpa operasi plastik, itu semua karena makanan yang dibumbui rasa.
Kini saya ingin menikmati hidangan didepan mata,satu persatu. Rasa itu mulai menjelajahi kerongkonga. Sepotong tiramisu yang dingin.suasana resto yang mendukung.
Dengan perut yang super kenyang saya memperhatikan si pelayan membersihkan sisa-sisa makanan di masukan jadi satu ke dalam tempat sampah yang besar tanpa beban dan tanpa memilah mana yang terlebih dahulu yang akan di masukan ke tempat sampah.
Tadi saya makan menunya bertahap dari makanan pembuka sampai makanan penutup.
Apa jadinya semua menu pesanan tadi dimasukan didalam satu wadah di aduk menjadi satu kemudian dimakan dengan rasa yang ada. Itulah yg ada dalam perut ini.
Apapun yang dimakan, melalui rongga mulu, perut tidak ada artinya kalau tidak ada "Rasa". Rasa itulah yang banyak membuat manusia sering lupa akan segala-galanya. Dalam rasa banyak makna yang bisa kita ambil, yang tidak dipahami banyak orang
Rasa dekat dengan siapa yang menciptakan kita,
Rasa sayang sesama
Rasa puas,
Rasa berterimakasih dan rasa semuaaaaa yang terasa.
Mengapa kita selalu membedakan dan memelihat seseorang dengan tidak memiliki Rasa.
Pekanbaru 14 Maret 2011 by YuKo






0 komentar:
Posting Komentar