RSS

Jumat, 25 Maret 2011


Cinta Tanpa Koma...

Pagi  cerah, dengan tangan yang masih basah. Sambil memandang wajah di cermin, hadiah dari suami tercinta.Tanpa terasa sebentar lagi  usiaku mau menuju kepala empat, usia yang ditakuti oleh para kaum hawa, kulit mulai kering, pipi mulai tembem, dan kerutan halus di pelipis mata.
 Siap nggak sich.....Oh tidaaaaakkk!!!!!!
“Kamu masih cantik kok!” tiba-tiba suami muncul di belakang.
“Masa sih?” mataku menatapnya dengan penuh tandanya.
“Bang, ingat nggak? Sebentar lagi ulang tahunku lho!”
“Masa sih, dek?” Suami terbengong.
Ih,kamu payah bener! bisikku dalam hati, sambil mengambil krim siang yang mau dioleskan ke wajah ,yang masih basah oleh sisa air.
Saya tertegun sejenak. Dia selalu lupaaaa...
Tapi dia selalu menerima saya apa adanya. Dalam masa apapun dia  ada di samping saya. Demikian juga kadang sifat sensitif saya  muncul tiba-tiba. Maunya pengertian suami harus lebih. Kadang  membuat saya penasaran dan bertanya dalam hati, masihkah dia mencintai, yaitu ketika tangan ini sudah mulai keriput, rambut ini keperakan.Sebab, banyak teman-teman di kantor  bilang, laki-laki itu cenderung senang  melihat yang indah-indah dan menarik.
Apa iya?
Okelah...
Tapi yang aku yakini, ada yang jauh lebih cantik dari  sekedar fisik. Kutepis cemas yang melanda.
Namun sudah sekian lama saling mengenal, apakah itu tidak cukup untuk saling menerima pasangan apa adanya? Bahwa sejatinya setiap pasangan harus saling memahami dan membutuhkan.
Seingat saya, suami  memang tidak pernah melakukan hal-hal yang romantis seperti yang pernah dilakukan suami sahabat baik saya.
Dia tidak pernah mengajak saya makan malam berduaan (candle dinner), nonton bioskop berduaan, bahkan jarang memberi hadiah istimewa.
Dari semua kekurangannya, dia tidak pernah sekalipun mengeluh dan menuntut, agar saya berada di rumah setiap saat dan setiap waktu. Mungkin memasak makanan favoritnya setiap hari. Bahkan tidak pernah mengeluh pada saat saya membutuhkan bantuannya. Misalnya menemani kekamar kecil di malam hari.
Di lain waktu dia tetap dengan senang hati membantu saya kalau mau mandi, mengganti popok bayi di saat saya habis melahirkan putra-putri kami, dengan  cara operasi ceasar. Dan yang paling penting, dia ridha ketika saya sibuk bekerja di luar rumah. Kadang kala saya bekerja di kantor bertemu dengan  teman- teman lawan jenis. Apa gerangan yang ada dalam benaknya? Cemburu nggak ya? Sekian lama mengenalnya, kadang dalam hati saya bertanya, apakah dia tidak cemburu, atau dia malu mengungkapkan? Cuma mengungkapkan kata C.E.M.B.U.R.U aja kenapa susah amat. Arghhh...
Saya pernah berpikir  bagaimana caranya  dia bisa cemburu, kata orang tua dulu cemburu itu tandanya cinta, berarti dia tidak cinta dong?
Tetapi saya pernah diingatkan kakak,”jangan pernah memancing rasa  cemburu suami, bisa berbahaya, amit-amit jabang bayi!”
“Siap, My sister!”
Seketika saya mendengar sayup dari kejauhan suami memanggil. Saya bergegas menghampirinya  di mobil. Sudah waktunya berangkat ke Kantor. Dalam perjalanan, aya memandangnya dari samping. Di kepalanya  sudah mulai muncul si putih alias uban satu persatu.
“Eh,....kenapa kamu ngeliatin saya seperti itu?Mmmm....kok malah nyengir gitu?”
”Duhhh... kalo aku kasih tau marah nggak ya?”
“Kenapa? Ada yang aneh?” ungkap suami.
Ya, ubanmu sudah banyakkkkkkkk......hihihihihiihii.
“Wajarkan balasnya!”
        “Menurutmu aku harus bersusah hati kalau rambut putih ini mulai muncul? Apa kamu lupa kalau aku sudah menginjak kepala empat?”
        Ooohh....begitu?
         Wow! potongku.
        Lho... kok? Aku tertawa geli mendengarnya.Tak pernak kubayangkan suatu hari nanti memiliki suami rambutnya  sudah memutih. Ternyata , Allah menganugerahi kepada umatnya apapun tepat pada waktunya dan tidak ada yang bisa menundanya.
        Setengah jam kemudian kami sampai di kantor. Saya pandang lagi dia. Dalam hati, saya sangat bersyukur terima kasih ya Allah Engkau memberi saya suami pengertian, tidak pernah komplain, apalagi menggerutu. Ketika saya terpaksa ke luar kota ada  tugas  dari kantor, dimana anak-anak  terpaksa saya tinggalkan bersamanya.
        For my dear husband ,”Thanks.... I love U. Kamu selalu ada di samping saya di saat susah dan senang, mendampingi saya  untuk menghadapi  hari esok.
        Jangan bosan ya, menghadapi istrimu yang kadang kala sembrono dan ajaib ini..wkwkkwkwkwkwk
        Suamiku sayang, terima kasih ya atas semua yang  telah kau lakukan untukku dan anak-anak.
        Say...., kamu sudah berusaha keras menjadi  papa yang baik buat anak-anak  dengan kekurangan yang kamu punya. Mulai hari ini saya berjanji akan menjadi istri yang lebih baik lagi untukmu. Istri yang kau ridhai dan Allah pun ridha kepadaku...amin. Kumerasa cinta ini takkan pernah berhenti hingga berbilang hari. Cinta itu tanpa koma, say...*


Pekanbaru 25 Maret 2011 by   Yuko








0 komentar:

Posting Komentar